Mencerdaskan Anak Sejak Usia Dini

Cerdas Ceria Sehat dan Berakhlaq

29 December 2012

Hal-hal Penyebab Anak malas Belajar

anak malas belajar
Anak malas belajar.  Apa ya kira-kira penyebabnya sehingga anak malas belajar.  Belajar untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah merupakan aktivitas yang tidak boleh diabaikan dan ditinggalkan.  Karena untuk menuju anak yang berprestasi dibutuhkan proses pembelajaran yang tak kenal henti.  Lantas hal apa saja yang bisa membuat anak untuk malas belajar?  Apakah lingkungan yang tidak mendukung atau kesalahan dari orangtua yang salah dalam memotivasi anak.  Atau bisa jadi anak malas untuk belajar dikarenakan memang di dalam dirinya tidak ada semangat untuk belajar.

Banyak hal yang bisa membuat anak untuk malas belajar.  Salah satu contohnya adalah yang sudah disebutkan di atas.  Proses belajar mengajar adalah aktivitas yang melibatkan antara pihak guru dan pihak murid.  Ketika anak malas untuk belajar maka guru tidak bisa dijadikan kambing hitam karena anak malas untuk belajar.  Ataupun menyalahkan pihak sekolah karena kelalaiannya dalam mengontrol proses belajar anak.

Mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan anak malas belajar merupakan tanggung jawab yang harus bisa diselesaikan oleh orangtua siswa.  Permasalahan yang terjadi harus dikaji dengan benar agar bisa mencari solusi yang tepat agar dapat menumbuhkan semangat belajar pada anak.  Oleh karena itu para orangtuanyalah yang seharusnya mengetahui latar belakang anaknya.  Setelah sumber masalah kenapa anak malas untuk belajar ditemukan maka penyelesaian dan solusi dapat diberikan kepada anak yang malas belajar.

Robert D Carpenter pernah melakukan beberapa penelitian dan pengamatan terhadap beberapa siswa yang berada dan tinggal di California.  Menurut beliau setidaknya ada empat hal yang bisa membuat anak untuk malas belajar.  Empat hal tersebut adalah

1.  Tidak ada komunikasi yang baik dengan anak

Kebiasaan para orangtua pada umumnya adalah suka memberikan pesan namun pesan yang disebutkan tersebut hanyalah membuat anak memiliki beban sehingga hanya menjadikan anak malas untuk belajar.

Banyak pesan-pesan yang disampaikan kepada anak, namun pesan tersebut hanyalah berisi omelan dan pelampiasan kemarahan orangtua.  Misalnya adalah ketika orangtua melihat hasil nilai ulangan anak.  Kebetulan nilai yang didapat di bawah nilai rata-rata (jeblok).  Nah, kebetulan pula si anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain.  Kira-kira tahu pesan apa yang disampaikan orangtua kepada anak?  Pasti begini pesan yang diberikan, "Kamu sih tidak mendengarkan kata ibu, kamu kebanyakkan main hingga lupa belajar, akhirnya ya begini nilainya jelek!  Ibu kecewa sama kamu! Ibu kan sudah capek-capek mencari uang untuk kamu."

Kira-kira tahukan apa yang akan direspon oleh sang anak? Cerita sekilas tadi merupakan gambaran komunikasi kepada anak yang sangat tidak efektif.  Sebaiknya para orangtua harus banyak bertanya kepada anak, mengapa hal tersebut bisa terjadi.  Barangkali si anak memang mempunyai permasalahan dengan materi pelajaran yang belum dikuasainya.

2.  Orangtua bersikap otoriter kepada anak

Tanpa sadar banyak para orangtua yang melakukan sikap kepada anaknya dengan sikap otoriter.  Maksudnya sih bagus memberikan pesan kepada anak namun efek yang ditimbulkan malah membuat anak malas untuk belajar.  "Pokoknya kamu besok harus rangking satu!"  Seharusnya kamu itu lulus dengan nilai bagus, kan sudah ayah masukkan ke lembaga BIMBEL!"  Kalau sudah besar nanti kamu harus menjadi pedagang seperti ayah!"

Masih banyak pesan-pesan lainnya yang membuat anak malas untuk belajar.  Si anak seakan-akan harus dipaksa untuk menuruti kemauan orangtuanya.  Akhirnya hal yang terjadi adalah anak akan melakukan kemauan orangtuanya dengan setengah hati.  Bagaimana mau dilakukan dengan sepenuh hati, kalau anak sendiri tidak menyukainya. 

3.  Orangtua memberikan target dan standar yang tidak sesuai

Ada juga beberapa orangtua yang mengharapkan agar anaknya bisa mencapai target yang telah ditentukan oleh orangtuanya. Target yang diberikan bisa jadi berada di bawah atau di atas kemampuan anak. Kalau target yang diberikan jauh di bawah dari kemampuan anak, bisa jadi anak malah akan tidak ada motivasi sehingga anak akan malas untuk belajar.  Begitu pula sebaliknya ketika target yang diberikan jauh di atas kemampuan anak maka si anak juga akan malas untuk belajar karena merasa terbebani.

4.  Orangtua memberikan tata tertib yang tidak mendidik

Ada beberapa para orangtua yang membuat aturan dan hukuman dalam kehidupan rumah tangganya, termasuk aturan dan hukuman kepada anak. Aturan dan hukuman ini akan bisa bermanfaat dengan baik apabila dibuat dengan kesepakatan antara pihak anggota keluarga bukan buatan orangtua sendiri.  Apabila hanya buatan orangtua sendiri maka aturan tersebut tidak akan bisa menumbuhkan sikap sadar, paham dan mengerti dengan konsekuensi.

Buatlah aturan-aturan dengan kesepakatan bersama anak dan selalu di up date.  Termasuk kesepakatan dalam belajar dan bermain.  Apabila anak melanggar bisa diberi hukuman namun bila anak berprestasi maka perlu untuk diapresiasi dalam bentuk penghargaan.

Dari rangkaian empat hal penyebab anak malas untuk belajar faktor paling besar adalah di dominasi dari pihak orangtua.  Orangtua salah dalam memberikan pengarahan dan pendidikan maka anak juga tumbuh jauh dari harapan orangtua.  Para orangtua memiliki peran yang penting untuk menumbuhkan semangat belajar kepada anak.  Tidak selayaknya orangtua hanya menyalahkan dari faktor eksternal saja ketika anak malas untuk belajar.  Kalau bukan orangtua yang membantu anak, siapa lagi..
Back To Top