13 March 2013

Penyebab dan Mengatasi Anak Bicara Kotor

anak bicara kotor
Cara bicara anak-anak sekarang memang sudah ada yang melampaui batas.  Untuk ukuran anak-anak sudah ada yang bisa menirukan perkataan kotor dan perkataan lainnya yang tidak layak diucapkan oleh anak kecil.  Mulai dari kata-kata ejekkan kepada temannya atupun hanya sekedar nyeplos begitu saja.  Seolah anak-anak tidak ada perasaan bersalah.  Ya maklum saja karena anak-anak memang belum mengetahui beberapa makna yang diucapkannya.

Bagaimana kalau hal tersebut diucapkan dan dibicarakan oleh anak kita sendiri?  Ketika anak-anak sedang berkumpul eh tidak tahunya anak kita yang sering mengucapkan kata-kata kotor tersebut.  Atau ketika anak pulang bermain, tahu-tahu anak sudah fasih berbicara kotor kepada kita.  Rasanya malu kalau anak kita yang mengucapkan kata-kata kasar maupun kata-kata kotor tersebut terdengar di telinga kita.

Kira-kira reaksi apa yang akan kita sampaikan kepada anak kita manakala anak kita mengucapkan kata kotor tersebut?  Apakah dengan memberikan kekerasan akan mampu untuk menghentikan anak berhenti berbicara kotor? Karena kalau dipikir lebih jauh lagi anak juga pastinya belum paham dan mengerti dengan kata-kata kotor yang diucapkannya.

Sebaiknya para orang tua harus memahami apa yang menjadi sebab anak suka berbicara kotor.  Dengan memahami hal tersebut maka kita akan lebih mudah untuk melakukan pencegahan agar anak tidak suka latah dengan kata-kata yang tidak layak diucapkan oleh anak kecil.  Setidaknya ada 3 faktor penyebabnya yaitu

1. Anak meniru dari lingkungan rumah

Anak-anak adalah insan yang sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan di sekitarnya. Lingkungan rumah merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak.  Segala aktifitas yang diucapkan oleh lingkungan keluarganya akan sangat mudah untuk direkam dan diingat dalam memori anak.  Makanya sangat wajar apabila anak berbicara kotor maka yang akan menjadi pertanyaan adalah bagaimana orang tuanya memberikan contoh perkataan di depan anaknya.  Bisa jadi anak hanya meniru kata-kata kotor yang terbiasa diucapkan oleh orang tuanya.

2. Anak mencontoh tayangan televisi

Tak pelak lagi bahwa fenomena sebuah televisi merupakan sebuah benda yang mampu membentuk pola berpikir anak. Termasuk kata-kata yang sering terdengar dalam sebuah tayangan televisi.  Umumnya kata-kata kotor dan kasar akan kita dengar dalam adegan sinetron ataupun film yang bernuansa kekerasan.  Tapi anehnya juga mengapa anak malah merekam kata-kata yang tidak baik tersebut.

3. Anak terpengaruh dari lingkungan luar rumah

Lingkungan di luar rumah memang tidak bisa kita kendalikan secara penuh. Kumpulan dari berbagai anak-anak dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda juga mampu untuk membentuk cara berkata anak.  Oleh karena itu lingkungan yang sehat merupakan sebuah kebutuhan yang mutlak disediakan untuk membantu perkembangan anak.


Dari 3 hal tersebut maka kita sebagai orang tua harus sering melihat dan mengontrol perkembangan anak.  Sesekali awasi dari kejauhan tingkah laku anak kita.  Bisa dengan menanyakan kepada teman terdekatnya ataupun dengan mengawasi anak secara langsung.

Untuk membantu anak agar anak terhindar dan tidak terbiasa mengucapkan kata-kata kotor maka kita bisa melakukan tips dan cara berikut

a. Hal yang mesti dilakukan adalah dengan mengevaluasi dalam lingkungan keluarga kita.  Apakah kata-kata kotor dan kasar sering terlontar dalam keluarga kita?  Terbiasakah kita meluapkan emosi dan kemarahan dengan mengucapkan kotor baik itu kepada suami maupun istri ataupun bahkan anak-anak sering kita hardik dengan kata-kata kotor dan kasar.  Meminimalkan dan menghilangkan kata-kata kotor dalam rumah akan mampu untuk mengerem  dan menjaga anak tidak berkata kotor.

b. Jagalah anak kita dari lingkungan yang tidak sehat.  Matikan televisi yang berisi adegan kekerasan dan ucapan-ucapan seronok.

c. Berikan pngertian dan pemahaman manakala sudah terlanjur mengingat dan berbicara kotor.  Ingatkan ketika anak keceplosan berkata dan berbicara kotor. Tujuannya adalah agar anak memahami dan mengerti bahwa hal tersebut tidak boleh diucapkan dan melanggar etika sopan santun dan hanya akan menjatuhkan harga diri.

Anak usia dini memang usia dimana anak akan berkembang sesuai dengan rangsangan yang diterima dirinya.  Termasuk pengaruh-pengaruh dari luar juga bisa membentuk kepribadian anak.  Membentuk kepribadian yang baik kepada anak memang pekerjaan yang sulit.  Tapi membetulkan perilaku anak yang sudah terlanjur buruk juga memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dan akan lebih sulit lagi.

No comments: