27 April 2013

Penyebab Anak Malas Belajar Menulis

Penyebab Anak Malas Menulis
Mengajari anak usia dini belajar menulis membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.  Karena memang perkembangan motorik halus anak usia dini belum begitu sempurna.  Meskipun begitu usia anak-anak PAUD harus sudah mampu untuk memegang pensil secara baik.  Untuk hasil tulisan yang baik memang memerlukan waktu dan proses.  Karena dalam belajar menulis anak-anak PAUD membutuhkan tahap-tahapan dan tidak secara langsung anak diajarkan menulis tanpa bantuan media seperti buku belajar menulis.

Kadang kendala yang dihadapi dalam mengajarkan anak menulis adalah tingkat kemauan anak yang rendah dan anak kurang semangat ketika disuruh untuk belajar menulis.  Tentunya ini akan menjadi hambatan tersendiri sehingga para guru harus memberikan motivasi terlebih dahulu agar anak mau menulis.  Para guru harus mencari tahu apa yang menyebabkan anak enggan dan malas mengikuti kegiatan belajar menulis di sekolah.

Apalagi kalau anak masih ditunggu oleh orang tuanya.  Tentunya para orang tua akan merasa jengkel ketika menyaksikan anaknya tidak mau menulis.  Karena ada beberpa sikap orang tua yang tidak sabar ketika melihat keadaan seperti ini dan cenderung mencubit anaknya agar si anak mau menulis.

Agar anak mau dan semangat dalam menulis terutama ketika berada di kelas maka para orang tua sebaiknya memperhatikan dengan baik faktor yang bisa menyebabkan anak malas untuk menulis.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang menyebabkan anak malas dan enggan untuk menulis di sekolah

1. Anak sudah bosan dengan menulis

Banyak hal yang menyebabkan anak merasa bosan dengan kegiatan menulis ini.  Biasanya hal ini disebabkan karena tuntutan dari orang tua yang terlalu tinggi kepada anak.  Dengan alasan tersebut akhirnya orang tua menuntut anaknya agar belajar menulis di rumah dan orang tua banyak mengomeli anak ketika anak banyak bermain.  Porsi yang terlalu banyak belajar menulis di rumah akan menjadikan anak enggan dan malas belajar menulis kembali di sekolah. 

Anak merasa sudah banyak belajar menulis di rumah dan sebagai pelampiasan selanjutnya adalah anak akan menghabiskan waktu di sekolah untuk bermain ataupun bermalas-malasan.  Mengapa hal ini bisa terjadi?  Hal ini bisa terjadi karena anak sudah jenuh dengan menulis.  Di rumah dipaksa menulis oleh orang tuanya dan di sekolah anak di suruh belajar menulis kembali oleh gurunya.  Hal ini membuat anak sedikit stress atau tertekan.

2. Peralatan menulis yang kurang memadai

Semua orang pasti sepakat bahwa ketika memiliki alat-alat yang baru pasti akan semangat untuk menggunakannya.  Begitu pula dengan anak-anak, ketika anak melihat peralatan menulisnya kurang menarik maka akan membuat antusiasme anak untuk menulis akan menjadi menurun.

Semangat ini akan semakin bertambah menurun ketika anak merasa minder karena teman-temannya memiliki alat menulis yang baik dan bagus.  Sedangkan alat untuk menulis yang ia gunakan hanya sebuah pensil butut yang kurang enak dipandang untuk usia anak-anak.  Karena anak memang belum mampu untuk diajak berpikir untuk  melihat barang yang terpenting bisa digunakan.

3. Anak tidak percaya diri

Anak yang tumbuh dengan memiliki sifat kurang percaya diri memang membutuhkan metode pengajaran tersendiri, termasuk ketika anak belajar menulis.  Banyak anak ketika disuruh untuk menulis namun mereka malah bilang kalau tidak mampu dan tidak bisa menulis.  Kebanyakkan anak belum mencoba namun sudah merespon tidak mampu dan tidak bisa.  Anak sudah merasa takut dahulu sebelum mencoba.

Itulah beberapa kendala dalam mengajarkan anak untuk menulis dan sering dihadapi oleh para guru-guru PAUD.  Dalam pembelajaran anak usia dini memang membutuhkan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan pihak orang tua.  Orang tua sebaiknya tidak memberikan penekanan ataupun target khusus kepada anak.  Seharusnya metode yang digunakan adalah belajar sambil bermain bukan dengan membuat anak stess dan membatasi ruang bermain anak.  Hal ini bisa terjadi karena memang pengetahuan para orang tua yang minim dalam mendidik anak usia dini.

No comments:

Post a Comment