Mencerdaskan Anak Sejak Usia Dini

Cerdas Ceria Sehat dan Berakhlaq

13 November 2017

Salahkah Menitipkan Anak Kepada Orangtua?

menitipkan anak

Saat ini para ibu bekerja di luar rumah bukanlah hal yang aneh.  Banyak para wanita yang mengejar karir demi alasan ekonomi untuk membantu keuangan keluarga.  Sehingga hal ini tak sedikit para ibu yang akhirnya harus menitipkan anak-anaknya kepada orang tuanya. Entah karena sibuk atau tidak sanggup merawat anak-anak karena aktivitas pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga, meskipun dari mereka yang memberikan sesuatu kepada orangtua sebagai bentuk imbalan atau gaji.

Mendidik anak dan merawat anak adalah tanggung jawab sepenuhnya para bapak dan ibu sebagai orangtua kandung.  Bapak dan ibu diberi karunia anak memang karena dianggap sanggup untuk merawat dan mendidiknya selama para bapak dan ibu berkeyakinan bahwa semua rezeki diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mendidik dan mengasuh anak memiliki pahala yang sangat besar sekali.  Karena anak merupakan aset yang sangat berharga yang mana doanya akan selalu dinantikan ketika para orangtua sudah tiada. Investasi yang sangat berharga ini seharusnya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para orang tua kandung.

Akan tetapi tidak sedikit para ibu atau para orang tua yang malah memberikan beban mengasuh dan merawat anak kepada ibu sendiri atau ibu mertua.  Dengan alasan sibuk dan bekerja di luar akhirnya anak dititipkan dan meninggalkan kewajiban utama merawat dan mendidik anak.

Seharusnya hal seperti ini menjadi bahan renungan  para orang tua khususnya para ibu. Apakah menitipkan anak merupakan hal yang wajar atau malah menjadi hal yang sebenarnya malah menyita tenaga para orangtua yang kita titipi untuk merawat anak.

Beberapa hal yang harus menjadi bahan renungan dan evaluasi bagi orang tua yang suka menitipkan anaknya terutama kepada ibu sendiri atau ibu mertua

1. Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah perbuatan kita meringankan beban orang tua  atau malah sebaliknya?
2. Sudah luruskah niat kita karena semata-mata untuk membahagiakan keluarga atau hanya untuk mengejar karir dunia semata
3. Apakah orangtua lebih baik dalam mengasuh anak terutama dalam hal perkembangan jaman?
4. Masih kuatkah orangtua kita yang sudah lanjut usia untuk mendidik anak-anak kita? Sedangkan keaktifan anak kadang membuat kita lelah?
5. Meskipun kita memberikan imbalan berupa uang, sudah layakkah kita melakukan hal tersebut? Karena orangtua bisa saja tersinggung, imbalan yang kita berikan merupakan gaji karena mendidik anak bukan karena sebagai wujud bakti anak kepada orangtua.
6. Tanyakan apakah orangtua merasa terhibur dengan kehadiran cucu atau malah sebaliknya
7. Perhatikan dengan seksama apakah anak-anak yang kita titipkan cenderung nakal dan menyusahkan? 
8. Betulkah hal tersebut dibenarkan oleh syariat agama?

Apabila dalam diri kita menitipkan anak karena mengejar kepentingan dunia dan malah membuat orangtua yang kita titipi anak merasa terganggu dan terbebani, sesungguhnya kita telah berbuat aniaya dan dzalim kepada mereka.  Jika mereka merasa terbebani maka kita telah melakukan perbuatan dosa.
Adalah Dosa dan aniaya menitipkan anak kepada orangtua dengan alasan mengejar karier dunia
Setidaknya kita telah melakukan 2 hal perbuatan salah dan termasuk kategori dosa yaitu meninggakan kewajiban untuk mengasuh dan mendidik anak serta kita telah melakukan perbuatan aniaya dan dzalim kepada orangtua.  Alangkah terpujinya apabila kita bisa meringankan beban orangtua dan membahagiakan mereka dimasa-masa tuanya.

Sebagai Bahan Catatan untuk para ibu dan ayah sebagai orangtua

Para Orang tua memiliki 3 peran utama yaitu
1. Merawat fisik anak agar tumbuh kembang dengan sehat, 
2. Proses sosialisasi anak agar belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya, 
3. Serta kesejahteraan psikologis dan emosional anak.

Kewajiban dari orang tua yang harus dipenuhi yaitu hak anak untuk hidup, nama yang baik, disembelihkan aqiqahnya, ASI 2 tahun, makan/minum/pakaian, pendidikan agama, pendidikan sholat, tempat tidur terpisah antara pria dan wanita, pendidikan adab, pengajaran Al-quran/baca tulis, perawatan dan pendidikan kesehatan/kebersihan, pengajaran keterampilan, kasih sayang, keamanan, dan perlindungan.
Back To Top